Selama ini kelapa Pagergunung hanya dijual mentah ke pengepul dengan harga yang dipukul rata. Bhumi Kalapa hadir untuk membalik cerita itu.
Pagergunung adalah desa di Kecamatan Pangandaran yang sebagian besar warganya menggantungkan hidup pada perkebunan. Di antara kopi dan durian, kelapalah yang tumbuh paling melimpah ratusan hingga ribuan butir bisa dipanen sepanjang tahun, tanpa mengenal musim.
Namun kelimpahan itu belum berarti kesejahteraan. Kelapa masih dijual dalam bentuk mentah, dengan harga yang ditentukan sepenuhnya oleh pengepul.
Bhumi Kalapa didirikan sebagai usaha desa kolektif digerakkan oleh ibu-ibu PKK dan karang taruna untuk mengubah rantai itu, dari kebun langsung menjadi karya.
— begitu ceritanya bermula
Sebelum merancang solusi, kami menelusuri dua persoalan utama yang menahan potensi kelapa Pagergunung untuk berkembang.
Minim diversifikasi produk, dan petani masih bergantung penuh pada pengepul sebagai satu-satunya jalur penjualan.
Kurangnya pengetahuan bisnis dan produksi, serta belum adanya sistem usaha kolektif yang menaungi warga.
Jawabannya adalah Bhumi Kalapa, usaha desa kolektif yang mengolah kelapa menjadi produk bernilai tinggi, dijalankan oleh dan untuk warga desa sendiri.
Baik Anda ingin menjadi pelanggan, reseller, atau mitra pendamping desa, Bhumi Kalapa terbuka untuk tumbuh bersama.